RIBATH NURUL HIDAYAH

FIKRAH

MENU ARTIKEL - silahkan pilih Menu dibawah ini

Minggu, 08 November 2009

Rukun IHSAN

Rukun IHSAN

Setelah menundukkan akal dengan aqidah, menjalankan fisik dalam syari’at dan peribadahan kepada Sang Khaliq, maka kini mari kita menata hati dan jiwa dengan PONDASI ketiga, yakni IHSAN.

Kita akan berada dalam derajat IHSAN dengan memantapkan ibadah berdasarkan hati yang KHUSYU’, KHUDHU’, IKHLASH dan KHUDHUR. Adapun untuk dapat mencapai kesemuanya, haruslah senantiasa kita menghadirkan Keagungan Allah Jalla wa ‘Alaa di dalam hati kita. Jadilah saat kita beribadah seakan-akan melihat Allah, sehingga tiada terbersit di dalam hati untuk mengalihkan ‘pandangan’ dari-Nya. Jika tidak mampu untuk ‘seakan-akan melihat’-Nya, maka tancapkan di dalam hati kita keyakinan bahwa tiada pernah lepas ‘Pandangan Allah’ dari gerak-diam dan dzohir-bathin kita.

Untuk mencapai derajat IHSAN, kita perlu mempelajari, memahami dan mengamalkan ilmu tentang penataan akhlak hati, yang disebut Ilmu Tashawwuf. Ilmu Tasawuf bermuara pada tiga hal;

1. Menepiskan godaan dan tipuan dunia,

2. Kembali kepada kehidupan akhirat yang abadi, dan

3. Bersiap-siap sebelum datangnya kematian.

Seseorang yang menghiasi budinya dengan keluhuran akhlaq bersandarkan pada Sunnah Nabawiyyah, serta membuang jauh-jauh penyakit-penyakit akhlaq, maka pantaslah dia disebut sebagai seorang Sufi (ahli Tasawwuf). Karena pada dasarnya, bertambahnya akhlaq seorang hamba menunjukkan semakin bertambah pengetahuannya tentang tashawwuf. Lihat; QS.Yunus:61; HR.Abu Dawud:4799,4798; HR.Tirmidzi:2003.

Al-Imam Hujjatul-Islam As-Syaikh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzaliy (Imam Ghazali) meringkaskan untuk kita 10 bentuk AKHLAQ TERPUJI yang merupakan AMALAN HATI, yakni; Taubat, Khauf, Zuhud, Sabar, Syukur, Ikhlash, Tawakkat, Mahabbah, Ridha dan Dzikrul-Mawt.

Di bawah ini hanyalah sedikit memperkenalkan saja tentang sepuluh amalan hati tersebut;

A. TAUBAT

Yakni KEMBALINYA seorang hamba kepada Allah Ta’ala, sehingga semakin dekatlah ia dengan Allah. Sungguh, kemaksiatan menjauhkannya dari Allah, menyebabkan turunnya siksa dan murka Allah atasnya, maka wajiblah baginya TAUBAT yang menjadi jalan pendekatan jiwanya kepada Penciptanya.

Tidak akan sah taubat seseorang melainkan dengan memenuhi Syarat-syarat Taubat Nashuha (Murni), yakni;

1. Meninggalkan maksiat seketika itu juga,

2. Menyesali maksiat yang telah lampau ia lakukan,

3. Berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi maksiatnya,

4. Jika berhubungan dengan hak adamiy, maka wajib untuk meminta kehalalan dari orang yang pernah disakitinya.

Jika terpenuhi syarat taubat ini, maka terbebaslah orang tersebut dari dosa sebagaimana bayi yang baru terlahir dari rahim ibunya.

Adapun kesempatan taubat adalah selama nyawa seseorang masih belum sampai tenggorokannya, sebelum tiba ajalnya. Lihat; QS.An-Nuur:31; HR.Ibnu Majah:4250: HR.Tirmidzi:3537; HR.Bayhaqi: 5:439.

B. KHAUF dan ROJA’

KHAUF (Takut) berarti; keadaan hati yang selalu menyadari akan keagungan Allah beserta berat dan pedihnya murka dan siksa-Nya. Sifat Khauf ini akan membuahkan pribadi yang selalu menahan diri dari segala yang mengundang murka Allah, yakni maksiat dan syirik.

ROJA’ (Berharap/Optimis) berarti; kondisi hati yang selalu berprasangka baik kepada Allah dikarenakan kesadaran bahwa kasih sayang dan kelembutan Allah Ta’ala teramat luas tak bertepi.

KHAUF dan ROJA’ merupakan OBAT yang amat manjur untuk penyakit-penyakit hati, seperti ‘merasa aman dari cobaan Allah’ dan ‘putus asa dari rahmat Allah’.

Telah berkata para waliyullah ‘arifin billah, sesiapa yang ingin terbang (istiqomah agamanya), maka hendaklah ia miliki dua sayap (Khauf dan Roja’). Lihat; QS.Al-A’raf:99; QS.Yusuf:86; HR.Muslim: 2877.

C. ZUHUD

ZUHUD berarti menghilangkan kecintaan, kecondongan maupun ketergantungan terhadap kenikmatan dunia, disebabkan kenikmatan dunia bisa melalaikan manusia dari Allah dan alam akhirat.

ZUHUD terhadap dunia adalah tanda-tanda kewalian, orang yang zuhud (zahid) tidak akan merasa susah ketika ia tak menggenggam dunia, ia pun tak merasa gembira ketika genggamannya penuh dengan dunia. Justru ia akan senang ketika sedikit dunia dan susah ketika banyak dunia.

Adapun ZUHUD memiliki beberapa derajat, yakni;

1. Zuhud terhadap segala yang haram; inilah tingkatan zuhud yang wajib bagi setiap mukallaf.

2. Zuhud terhadap segala yang Syubhat (meragukan/tidak jelas), tingkatan ini merupakan tingkatan orang yang wara’.

3. Zuhud terhadap segala kelebihan setelah tercukupinya kebutuhan. Inilah sebaik-baik zuhud.

Sungguh, orang yang berakal akan memilih hal yang abadi dan pasti (akhirat) daripada hal yang akan sirna dan menipu (dunia). Lihat; QS.Az-Zukhruf:33-35; HR.Tirmidzi:2320,2322.

D. SABAR

SABAR berarti menahan nafsu (ego) saat menghadapi segala yang tidak disukainya dan menanggapinya dengan tuntunan syari’at.

Adapun lingkup SABAR ada tiga bentuk;

1. Sabar dalam melaksanakan perintah Allah, yakni melaksanakan ketaatan dengan Ikhlas dan Khudhur.

2. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan; malu kepada Allah dan takut akan murka-Nya jika bermaksiat.

3. Sabar ketika tertimpa musibah; tidak mengeluh dan meratap kepada sesama makhluk dan tetap khusnudzan kepada Allah Ta’ala. Lihat; QS.Al-Baqarah:155-157; HR.Bukhari: 1476

E. SYUKUR

Hakikat SYUKUR; adalah apabila seorang hamba menggunakan setiap nikmat yang dikaruniakan oleh Allah untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan syukur adalah sebab bertambahnya nikmat dari Allah.

Keadaan SYUKUR seharusnya merambah di dalam hati, lisan dan anggota badan;

1. Syukur Qalbi; yakni mengetahui, meyakini dan mengakui bahwa segala kenikmatan merupakan karunia dari Allah.

2. Syukrul Lisan; yakni memperbanyak memanjatkan pepuji lisan ke hadhirat Allah Jalla wa ‘Alaa.

3. Syukrul Arkaan; menggunakan aktivitas badan untuk beramal dalam ketaatan kepada Allah. Lihat; QS.Ibrahim:7,34; QS.An-Nahl:53; QS.Saba’:13

F. IKHLAS

IKHLAS yakni keadaan hati saat setiap ketaatan yang dilakukan, setiap amal taqarrub yang dikerjakan, hanyalah untuk Allah Ta’ala, untuk kebahagiaan dalam keabadian taman akhirat. Tiada di dalam hatinya tujuan selain Allah, tiada tujuan berupa pamrih, tiada tujuan berupa harta dan kedudukan.

Ketahuilah, IKHLAS adalah SYARAT sampainya amal kepada Allah Azza wa Jalla.

Ada tiga jenis orang yang beramal shalih;

1. Orang yang beramal sebab ketakutannya akan siksa Allah’

2. Orang yang beramal sebab mengharapkan pahala dari-Nya,

3. Orang yang beramal semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan memburu keridhaan-Nya, inilah derajat yang tertinggi.

Adapun beramal karena mengharapkan perhatian dan sanjungan dari manusia, inilah yang dinamakan RIYA’ yang diharamkan, Riya’ adalah sebab hancur dan leburnya amal yang telah dikerjakan, tiada akan pernah sampai kepada Allah. Lihat; QS.Az-Zumar:3; QS. Al-Ma’un:4-7; HR.Thabrani:2128.

G. TAWAKKAL

TAWAKKAL berarti; bersandar dan teguhnya keyakinan hati kepada Allah dalam setiap hal.

Bukanlah termasuk tawakkal orang yang berpangku tangan dan meninggalkan kasab atau sabab dalam hal rizqi dan nafkah.

Barangsiapa yang tiada mampu menyibukkan diri dengan ibadah dan meninggalkan aktivitas sebagai sabab keduniawian, maka seyogyanya ia bekerja dalam rangka mencari nafkah, serta buang jauh-jauh ketergantungan terhadap usaha (sabab)nya, melainkan gantungkan keyakinan kepada Dzat Yang menjadi Muara segala sabab. Lihat; QS.Al-Maidah:23; QS.At-Thalaq:3; HR.Tirmidzi:2344; HR.Muslim:996.

H. RIDHA

RIDHA terhadap ketetapan Allah, baik itu yang menyenangkan maupun yang menyusahkan bagi kita, hukumnya WAJIB.

Bukankan Allah bersabda dalam Hadits Qudsiy;

“Sesiapa yang tidak ridha terhadap ketetapan-Ku, tidak bersabar atas bala’-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, maka carilah tuhan selain Aku!!”

Sungguh telah yakin dan tertancap dalam hati kita bahwa tiada Dzat Yang wajib disembah melainkan Allah, lalu kemana kita akan lari jika kita sampai diusir oleh Allah???

Ingatlah sabda Baginda Nabi Muhammad saw.;

“Sungguh, jikalau Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mencoba kaum itu, apabila mereka ridha pada ketetapan-Nya maka Allah pun meridhai mereka, apabila mereka membenci ketetapan Allah maka Allah pun memurkai mereka.”

Adapun tanda-tanda seseorang tidak ridha terhadap ketetapan Allah adalah ucapan keluhan dan aduannya kepada sesama makhluk, “mengapa??”. Lihat; HR.Tirmidzi:2396; QS.Muhammad:9.

I. MAHABBAH (Cinta)

MAHABBAH LILLAAH merupakan keadaan hati seorang insan yang selalu terpaut dengan Allah, sehingga keterpautannya ini membuatnya berusaha untuk semakin dekat dengan Dzat Yang dicintainya, semakin tunduk dalam menghamba kepada-Nya, semakin cepat langkah kakinya dalam memburu keridhaan-Nya.

Adapun sebagian tanda Mahabbah dari Allah kepada hamba-Nya adalam pengampunan-Nya, rahmat-Nya, serta segala karunia-Nya.

Dan tanda Mahabbah seorang hamba kepada Allah adalah dengan ketaatan kepada-Nya, ketakutan akan murka-Nya, ridha terhadap ketentuan-Nya, sabar atas bala’-Nya dan bersyukur atas segala karunia-Nya.

Ketahuilah, bahwa seorang hamba yang mengenal Allah, ia akan jatuh cinta kepada-Nya, kemudian dia akan selalu tunduk taat kepada-Nya, kepada Dzat Yang dicintainya. Jika demikian, maka wajib baginya mendapatkan kecintaan dari Allah, sehingga hamba ini menjadi hamba yang beruntung dan mulia di dunia maupun akhirat. Lihat; QS.Maryam:96; HR.Bukhari:6502:3209.

J. DZIKRUL-MAWT

MENGINGAT MATI adalah hal yang sangat ditekankan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. kepada kita, agar senantiasa kita tersadar bahwa kematian sungguh dekat, lantas kita bersiap-siap menyambut kedatangannya dengan taubat yang sebenarnya dan memperbanyak amal shalih.

Sungguh, kematian pasti akan menjemput setiap jasad yang berjiwa, di waktu yang kita tidak mengetahui kapan datangnya, dalam keadaan diri yang kita tidak tahu kadar keimanannya.

Seseorang yang mengingat kematian akan merenung tentang dekatnya ajal, tentang bagaimana nyawanya akan dicabut, tentang kesempitan dan kesendirian dalam kuburnya kelak serta tentang kabar kebangkitan dan huru-hara di hari kiamat.

Maka tiada pernah ia akan mengulur-ulur kemantapannya untuk bertaubat, untuk meninggalkan maksiat, untuk merengkuh derajat taat. Lihat; QSAl-Jumu’ah:8; HR.Bukhari:6416; HR.Tirmidzi:2460.

Catatan ini merupakan ringkasan poin-poin penting yang perlu dipelajari dan dipahami tentang Arkaanud-Diin bagi kita mukallaf. Dinukil sedikit dari kitab karangan Al-Amil Al-Faqih Al-Murabbi Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith Al-‘Alawiy yang berjudul “Syarah Hadits Jibril: Hidayatut Thalibin fi Bayani Muhimmatid Diin”. Apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam risalah kecil ini, mohon dirujuk ke kitab tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar