RIBATH NURUL HIDAYAH

FIKRAH

MENU ARTIKEL - silahkan pilih Menu dibawah ini

Minggu, 08 November 2009

Kiai Mahfudz Anwar

Pakar Astronomi NU
KH. Mahfudz Anwar adalah salah seorang ulama kharismatik yang memiliki kualifikasi keilmuan yang sangat mumpuni. Tiga cabang ilmu dasar dikuasai dengan sangat mendalam yakni fikih, tafsir dan ilmu falak (astronomi). Selain ketiga bidang itu, KH. Mahfudz Anwar juga dikenal sebagai seorang Muhaddits [ahli hadits], Sufi [ahli tasawuf], dan ahlul lughah [ahli bahasa/ etimolog].
Kemampuan yang dimilikinya itu tidak lepas dari latar belakang keluarga yang membimbingnya, lembaga pendidikan yang menempanya, dan perjuangan sosial kemasyarakatan yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Tetapi diantara sekian banyak ilmu yang dikuasai ia lebih dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak, yang ditekuni hingga akhir hayatnya.

Masa Pembentukan
Kiai yang hafal al Quran itu dilahirkan di Paculgowang Jombang 12 April 1912 M dari pasangan Kiai Anwar Alwi dan Nyai Khadijah, ia anak keenam dari 12 orang bersaudara. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren Pacul Gowang, generasi kedua. KH. Anwar Ali satu periode dengan KH. Moh. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mereka sama-sama murid KH. Kholil Bangkalan Madura. Selain KH. Hasyim, KH. Abdul Karim [pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri] dan KH. Ma’ruf [Kedunglo Kediri] juga teman karibnya. Kiai Anwar Alwi juga murid KH. Mahfudz Termas Pacitan yang berdomisili di Makkah ketika studi di sana.

Melihat latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat wajar apabila KH. Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan agama yang tinggi Saat itu Pesantren Tebuireng telah muncul sebagai pesantren terkenal kualitas keilmuannya, kenyataan itu membuat Kiai Anwar Ali memondokkan anaknya ke sana. Jarak antara Tebuireng dengan Paculgowang hanya sekitar 3 km. Maka dikirimlah Mahfudz kecil ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menimba ilmu dari Kiai Hasyim.

Masa pendidikan Mahfudz banyak dihabiskan di Tebuireng, ditempuh mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, (kelas 1 sampai kelas VI) Ibtidaiyah. Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umumnya tidak jauh beda atau lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya. Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat, misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin sempat berguru padanya.

Selain kepada Kiai Hasyim, Mahfudz juga belajar kepada Kiai Ma’shum Ali, seorang ulama besar, ahli falaq dan pencetus nazam Ilmu Sharaf yang sangat heboh di Timur Tengah. Kiai Ma’shum Ali adalah Direktur Madrasah Tebuireng. Posisi penting itu ia duduki baik karena keilmuannya juga karena menantu KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya Hj. Khoiriyah Hasyim. Pada saat yang sama ia juga mengasuh pesantren sendiri di Seblak, tidak jauh dari situ. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu falaq, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Hal itu bisa dipahami mengingat sejak usia belasan tahun, Mahfudz sudah belajar ilmu itu. Karena itu meski usianya belum genap 20 tahun, kata Kiai Sahal Mahfud, ia sudah disegani oleh santri Tebuireng.

Sebagai santri yang menonjol kepandaiannya, akhirnya Mahfudz diambil menantu oleh Kiai Maksum, karena itu ketika Kiai Maksum meninggal pada usia yang sangat muda, 33 tahun tepat pada tahun 1933, maka kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada ustadz Mahfudz. Kesibukan mengurusi pesantren di Seblak tidak membuat Kiai Mahfudz melupakan Tebuireng ia tetap mengajar di Tebuireng. Walaupun sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan sudah menguasai sederet ilmu dengan mendalam, namun semangat belajar Kiai Mahfudz tidak pernah padam. Diantara sekian ilmu yang terus giat dipelajari adalah ilmu falaq sayang guru di bidang itu Kiai Ma’shum Ali keburu meninggal dunia, karena itu langsung belajar falaq lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang menjadi kepala pondok Seblak, yang masih terbilang cucu Kiai Rahmat Kudus. Karena minatnya sangat besar maka ia belajar dengan tekun dan teliti, sehingga bisa menyerap ilmu gurunya itu dengan cepat.

Ilmu Falak Sebagai pilihan.
Sebagai seorang ulama yang mumpuni, Kiai Mahfud menguasai berbagai disiplin keilmuan, antara lain fikih, tafsir dan falak. Dari sekian itu semua dikuasi, tetapi paling ditekuni adalah ilmu falak. Setelah betul-betul menguasai falaq, maka diskusi dan perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah sebagai ajang berdebat untuk memperkokoh argumen dan menghindupkan suasana kailmuan yang jarang diminati itu Maka tidak heran, apabila Kiai Mahfudz dan Mas Dain dalam tempo yang selatif singkat mampu menjadi seorang pakar falaq yang betul-betul mumpuni. Momentum paling tepat untuk menguji kepakaran mereka adalah pada saat rukyatul hilal (penentuan) awal Ramadlan dan Syawal, sebuah momen yang akurasinya sangat ditunggu oleh masyarakat. Maka, setiap menjelang Ramadan dan Syawal, Kiai Mahfudz dan Mas Dain pergi ke gunung Tunggorono, sebelah barat kota Jombang sekitar 2 km, untuk melakukan rukyah (pemantauan), melihat bulan setelah diperhitungkan sesuai dengan hasil hisab (perhitungan) masing-masing.

Walaupun ilmu dan caranya sama, namun seringkali hasilnya tidak sama. Yang satu mungkin mengembangkan satu cara menjadi cara yang lebih cepat dan cerdas, yang satu tetap istiqomah dengan cara lama. Setelah proses rukyah selesai mereka kembali ke pondok mendiskusikan hasil rukyah masing-masing. Perdebatan, untuk adu argumentasi dan ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mengamati hilal [tanggal] menjadi kunci kemenangan. Akhirnya, siapa yang paling benar dan kuat dalilnya yang keluar sebagai pemenang. Kiai Mahfudz sering menang dalam ajang perdebatan ini. Menurut penuturan Kiai Masduki, kelebihan Kiai Mahfudz mampu menghitung almanak secara akurat lima tahun kedepan. Tetapi untuk menjaga akurasinya ketika membuat almanak selalu gabung dengan Kiai Zubair Selatiga.

Dengan kecemelangannya dalam ilmu falaq ini semakin mengukuhkan kualitas keulamaannya dan kelebihannya diatas ulama yang lain. kebanyakan ulama, khususnya ulama NU hanyalah menguasai ilmu fiqh. Jarang dari mereka yang memiliki kepakaran langsung bidang kikih, tafsir dan sekaligus falak sehinga pamor Kiai Mahfudz semakin tampak diluar pesantren, di masyarakat sekitar. Walaupun keahliannnya langka, tetapi ia masih bisa berkomunikasi dengan rakyat melalui berbagai keilmuan yang dimiliki, akibatnya ia sering diundang mengisi acara pengajian kampung.

Berkarir di NU
Kiai ini tipe kader NU karis, ia menempuh jalur organisasi ini dari yang paling bawah sebagai pengurus ranting (desa) Seblak. Dari situ naik ke MWC [Majlis Wakil Cabang] tingkat kecamatan, dan akhirnya masuk ke jajaran PCNU [pengurus Cabang Nahdlatul Ulama]. Bahkan ia menjadi Rais Syuriyah dua periode berturut-turut. Periode pertama mulai tahun 1986-1989, periode kedua mulai tahun 1989-1992. Apabila ada kegiatan lailatul ijtima’ [setiap tanggal 15 bulan Hijriyah] sebulan sekali. Waktu itu, Kiai Mahfudz beserta rombongan seperti Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Wahab Hazbullah, Kiai Fattah, Kiai Abi Darda’, dan Kiai Sholihuddin menghadiri acara tersebut dengan naik sepeda dan bawa bekal makanan sendiri-sendiri, sementara tempat berganti-ganti.

Dari NU Cabang Jombang kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU Wilayah Jawa Timur. Di sana ia aktif mengikuti musyawarah atau bahtsul masa’il. Ketenaran fiqhnya mulai kelihatan tatkala beliau mengikuti forum bahtsul masa’il Kiai Jombang yang diadakan di Masjid Kauman Lor. Forum bahtsul Masa’il Kauman Lor itu dihadiri oleh para Kiai besar NU, seperti Kiai Wahab Hazbullah, Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Adlan Ali, Kiai Fattah Tambak Beras, Kiai Hamid, Kiai Khalil Sokopuro, Kiai Mansur Anwar, dan Kiai Mahfudz Anwar sendiri.

Keterlibatan Kiai Mahfudz dalam batsul masa’il ini sangat besar. Ia aktif menjawab dan mengemukakan argumen dengan dalil-dalil fiqh, tafsir, dan lain sebagainya yang dianggap mu’tabar dalam kalangan Nahdliyyin. Karena kedalaman dan kehati-hatiannya dalam memutuskan hukum inilah, sehingga para ulama peserta sering menyerahkan hasil musyawarah kepada Kiai Mahfudz untuk ditashih. Apabila Kiai Mahfudz tidak datang di acara bahtsul masail, beliau selalu mengirimkan jawaban tertulis.

Intensitas musyawarah ini terus berlanjut sampai ke forum bahtsul masa’il PWNU Jatim dan dalam Muktamar NU. Kiai Mahfudz aktif di PWNU Jatim sekitar tahun 1965-1970-an. Menurut penuturan Kiai Taufiqurrahman salah seorang menantunya, ketika terlibat dalam bathsul masa’il Muktamar, pendapat Kiai Mahfudz selalu keras, dalam arti yang paling shahih, yang paling muktamad, dan yang paling rajih. Ia sangat gigih mempertahankannya, sehingga kalau ada Kiai Mahfudz, suasana perdebatannya menjadi seru, penuh dengan adu dalil secara bergantian. Karena Kiai Mahfudz tidak mau mengalah, seringkali musyawarah batshul masa’il tersebut berakhir dengan mauquf [dipending].

Walaupun demikian, Kiai Mahfudz bukannya tidak mau mengalah dalam adu argumentasi [dalil] ketika bathsul masa’il, namun ia mencari pendapat ulama yang paling shahih dan muktamad. Baru bersedia mengalah jika menemukan ta’bir lebih sharih, jelas, muktamad, apalagi pengarangnya seorang ulama besar semisal Nawawi dan Rafi’i, atau Al-Ghazali dan Ibnu Abdis Salam. Ini dilakukan semata untuk mendapatkan jawaban yang benar dan rajih.

Dari kedalaman ilmu dan kehati-hatiannya tulah, akhirnya ia dipromosikan lagi dalam kepengurusan PBNU sekitar tahun 1960-an, bersama Kiai Wahab Hazbullah dan Kiai Bisyri Syansuri. Namun, karena kepakaran beliau yang sulit tertandingi orang lain ada pada ilmu falaq, maka ia diserahi tugas untuk memegang Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sampai tahun 1993 sebuah penghargaan professional yang sangat tinggi, karena berarti mengungguli sekian ratus pakar falak yang ada di lingkungan NU dan para ahli astronomi yang ada di republik ini.

Profesi yang Membawa Risiko Politik
Sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PBNU ini, Kiai Mahfudz Anwar sering mendapat tantangan berat khususnya dari pihak pemerintah orde baru. Pernah hasil rukyah untuk menentukan hari raya, Kiai Mahfudz berbeda dengan pemerintah selama tiga kali berturut-turut. Seluruh kiai dan warga NU berada penuh di belakang Kiai Mahfudz, maka benturan antara NU dan pemerintah tidak terelakkan.

Dengan sikap itu PBNU di bawah Abdurrahman Wahid dan Lajnah Falakiyah di bawah Kiai Mahfud menjadi incaran pemerintah dan kerapkali dicurigai. Munawir Syadzali sebagai Menteri Agama (Menag) memanggil Kiai Mahfudz untuk mendiskusikan persoalan perbedaan pendapat antara NU dan pemerintah dalam penetapan awal Ramadlan dan Syawal. Saat itu Menag mau mengajak membuat kesepakatan, tetapi di tengah jalan tiba-tiba Menteri meminta Kiai Mahfudz untuk mengikuti pemerintah saja, kontan Kiai Mahfudz tidak menerimanya. Ia tetap pada pendirian dan keyakinannya sesuai dengan hasil hisab dan rukyah yang dilakukan.

Pada kesempatan yang lain ia diundang untuk turut melakukan ru’yah di Pelabuhan Ratu. Dalam rukyah tersebut, Kiai Mahfudz berbeda pendapat dengan hasil tim yang dibentuk oleh Depag, tetapi pihak Depag memaksa sang Kiai agar mau mengalah. Namun ia tetap tidak bergeser, teguh memegang prinsip dan keyakinan. Dalam suasana seperti itu ia berkata; kerjakan falaq dengan membaca basmalah dulu, kalau udah pegang pena, dituntun Allah. Kalau Orang itu sombong tidak akan mendapatkan kebenaran”. Karena kuatnya memegang prinsip maka ia dimarginalkan dalam forum itu. Baginya hal itu tidak masalah kemudian dengan enteng keluar dari forum tersebut dengan mengatakan; “Kalau ngak boleh ya sudah, keluar saja” begitu ujarnya.

Walaupun pikirannya tidak diterima pemerintah, sebaliknya amasyarakat sangat menghormatinya, terbukti setiap menjelang 1 Syawal mulai usai maghrib sampai larut malam, halaman rumahnya penuh dengan lautan manusia, mereka ingin mendapatkan kepastian tanggal jatuhnya bulan Syawal. Karena banyaknya tamu yang datang saat penting ini, sampai di depan rumah ada papan pengumuman yang ditulis tentang penentuan tanggal 1 Syawal. NU biasanya berkiblat kepada hasil ru’yah Kiai Mahfudz, telepon pun tidak pernah berhenti dari seluruh penjuru tanah air.

Mengingat rezim orde baru yang semakin represif dan intervensif terhadap hasil rukyah dan hisabnya, membuat ia tidak nyaman bekerja sebagai ketua lajnah Falakiah PBNUyang saat itu memang sebagai kekuatan non pemerintah yang paling dominan. Apalagi saat itu usianya sudah uzur, maka ia minta berhenti agar diganti oleh para kadernya namun ia tetap duduk sebagai Ketua Dewan Pakar Falak PBNU sampai akhir hayatnya.

Menjadi Kiai Kelana
Kehandalannya dalam fikih dan tentu saja falak membuat pemerintah pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai Hakim Agama Kabupaten Jombang, jabatan itu diduduki selama 4 tahun. Melihat prestasi Kiai Mahfudz yang sangat baik di Pengadilan Agama Jombang, akhirnya pada tahun 1955, beliau dipromosikan menjadi Wakil Direktur Peradilan Agama DEPAG Jakarta. Pekerjaan barunya itu mengharuskan ia bolak-balik Jombang-Jakarta. Namun, baru tiga bulan Kiai Mahfudz rupanya tidak kerasan di Jakarta, akhirnya ia minta pindah ke Jombang. Ia hanya kuat bertahan 3 bulan di Jakarta. Alhamdulillah, permintaan kembali ke kampung halaman dikabulkan. Namun tidak di Jombang, tapi di Mojokerto. Di Mojokerto ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Setelah beberapa tahun di Mojokerto, pangkat beliau naik menjadi Hakim Pengadilan Agama di Surabaya.

Pada saat yang hampir bersamaan, ia diminta menjadi dosen fikih dan tafsir di IAIN Surabaya. Dalam bidang akademis karirnya juga menanjak dengan dipilihnya sebagai Dekan Pertama Fakultas Ushuluddin. Selain itu juga ngajar di Universitas NU Surabaya. Kepakaran Kiai Mahfudz tidak lepas dari ketekunan dan kesungguhan beliau dalam belajar. Ketika sudah menjadi orang sibukpun, beliau selalu muthala’ah [mengkaji] kitab, mudarasah [membaca] al-Qur’an, dan mengerjakan falaq. Jadi, dalam masalah waktu, beliau sangat hati-hati betul. Sedetikpun harus dimanfaatkan. Jangan sampai terbuang cuma-cuma.

Pada suatu ketika Kiai Mahfudz sekeluarga pernah pindah dari PP Seblak ke Jombang kota pada tahun 1956. di Jl Jaksa Agung Suprapto No. 14 Jombang. Tempat inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren Sunan Ampel yang saat ini berdiri dengan bangunan megah berlantai empat dan mempunyai santri kurang lebih 300 orang.

Kiai Mahfudz pindah pertama kali ke Jombang ini, selain membawa keluarganya, juga membawa santri perempuan yang jumlahnya ada 18. Mereka bertempat satu rumah dengan Kiai Mahfudz, menempati satu kamar panjang [rumah itu dulu hanya ada dua kamar, satu kamar panjang untuk santri putri bejumlah 18, dan satu kamar lainnya untuk Kiai Mahfudz, istri dan anak-anaknya]. Sungguh sebuah kesederhanaan yang patut dicontoh.

Sebelum Kiai Mahfudz menempati rumah kosong yang asalnya rumah Patih [kalau sekarang Sekwilda], awalnya beliau melakukan tirakat [topo] dulu, karena rumah itu terkenal angker. Diajaklah KH. Masduki [Perak] untuk berpuasa, membaca do’a-do’a khusus, dsb, dan akhirnya tempat itu menjadi tempat yang barakah sampai sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, Kiai Mahfudz kemudian membuka secara formal sebuah pesantren di tempat barunya itu pada tahun 1958.

Pada mulanya pesantrennya mirip sebuah asrama, para santrinya hanya terdiri dari anak-anak perempuan yang model pakaiannya berupa rok dan tidak berkerudung. Namun Kiai Mahfudz tidak melarangnya dengan paksa, namun pelan-pelan mereka diajari ilmu aqidah, syari’ah dan perilaku yang baik. Akhirnya, secara perlahan mereka dapat merubah. Yang asalnya memakai rok lantas memakai pakaian ala santri yang menutupi seluruh auratnya, yang asalnya tidak memakai jilbab kemudian memakai jilbab. Ketekunan, ketelatenan kesabaran, dan kesungguhan berdakwah inilah yang menjadi kunci kesuksesan Kiai Mahfudz.

Setelah pesantren yang dirintisnya berjalan, tiba-tba tugas lain sudah menunggu, ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan pesantren warisan nenek moyangnya, yang saat itu ditinggal oleh pengasuhnya, yakni Nyai Choiriyah Hasyim pada tahun 1983, Pesantren Seblak menjadi vakum keadaan itu memaksa Kiai Mahfudz Anwar pindah lagi ke Seblak pada tahun 1989. Sedangkan pondok Sunan Ampel Jombang diserahkan kepada putra menantunya, KH. Drs. Taufiqurrahman Muhid.

Anggota Keluarga
Istrinya, Hj. Abidah Ma’shum, ditengah kesibukan mendidik anak-anaknya yang jumlahnya 11 orang, masih mampu membagi waktunya untuk mengelola pesantren, dan madrasah [PGA]. Hj. Abidah juga mampu berkarir di NU sebagai Ketua Muslimat NU Cabang Jombang, menjadi hakim anggota Peradilan Agama Jombang, anggota konstituante yang dibubarkan Soekarno, mengisi pengajian di pelosok-pelosok, menghadiri pertemuan-pertemuan penting di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. sungguh luar biasa.

Dari 11 anak ini, yang meninggal dunia hanya seorang yaitu Ma’shum [anak pertama] yang sebetulnya dikader menjadi penerus Kiai Mahfudz. Dalam mendidik anak-anaknya, Kiai Mahfudz membebaskan anak-anaknya untuk memilih lembaga pendidikan yang disenanginya. Sesuai dengan perkembangan zaman, anak-anaknya banyak yang memilih di jalur umum, seperti kedokteran, bahasa Inggris, dan lain-lain. Yang ke IAIN hanya Gus Iim, yaitu IAIN Surabaya. Namun, setelah lulus lebih memilih profesi wartawan [Surya] dan sekarang menjadi praktisi komunikasi di sebuah perusahaan internasional.

Karena hal inilah, seringkali Kiai Mahfudz mendapat sindiran dari para kiai, “kiai kok anaknya tidak ada yang di pesantren, di sekolah umum semua” begitu juga, anak-anaknya yang belajar di sekolah umum juga mendapat penilaian yang sama, “Anaknya kiai kok belajar di sekolah umum, tidak di agama”. Semua itu meraka biarkan dengan pendirian bahwa waktulah yang menentukan. Dan ternyata benar, akhirnya banyak anaknya kiai yang tidak mondok atau belajar agama, tapi kuliah di fakultas umum.

Walaupun demikian, profesi apapun yang disandang putra-putrinya, Kiai Mahfudz selalu berpesan bahwa mereka harus berpegangan agama secara kuat, menghilangkan fanatisme dan sifat jelek lainnya.

Disisi lain, hal ini menunjukkan sifat keterbukaan Kiai Mahfudz terhadap tuntutan dinamika global yang membutuhkan penguasaan IPTEK dan skill yang memadai. Beliau tidak bersikap dikotomis, memisahkan antara ilmu agama dan umum. Semua ilmu bagi Kiai Mahfudz relevan dengan Islam. Justru saling melengkapi dan menyempurnakan.

Dalam sebuah kesempatan beliau pernah mengatakan “Kita harus memperhatikan pengetahuan umum dan keterampilan, sehingga keluaran pesantren nanti ada yang siap pakai, contohnya seperti KH. A. Wahid Hasyim”. Apa yang dikatakan diterapkan dengan serius, karena itu dipesantrennya dibuka SMP Sunan Ampel sebagairealisasi pemikiran besarnya.

Seluruh waktunya untuk mengabdi di NU dan masyarakat terutama dalam pengembangan dan pengajaran lmu falaq yang semakin tidak diminati. Sampai akhir hayatnya, ia masih berusaha melakukan hitungan falak sampai tahun 2003. Karena ketekunannya menggarap falaq ketika kondisi tubuh sudah senja, kurang sehat, penglihatan kurang maksimal. Pada tahun 1997 ia jatuh sakit. Belum lagi hobinya membaca berbagai kitab lama dan baru untuk meng-up grade pengetahuannya, hal itu membuat koleksi kitab sang kiai menjadi sangat lengkap. Pernah suatu kali seorang Imam besar Masjid Madinah datang ke ndalem Kiai Mahfudz, minta kitab Kiai Mahfudz yang dari Kiai Hasyim Asy’ari tentang ilmu hadits dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Kitab kuno itu lalu diganti dengan kitab terbitan baru.

Ketika musim lebaran, hampir non stop selama seminggu pintu rumah terbuka untuk para tamu. Mulai pagi hingga malam. Walaupun beliau capek, tetap menerima para tamu. Menurut beliau, kasihan apabila ada tamu jauh-jauh datang tapi tidak bisa ketemu. Ini menunjukkan kecintaannya kepada umat, dan beliau sekali lagi tidak merasa sebagai orang besar, sebagai orang suci, sebagai orang yang harus dijunjung tinggi. Beliau ingin posisinya setara dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, dalam menyapa siapapun, beliau selalu santun dan tidak menunjulkan kesan kebesaran dan keagungan melebihi orang lain, sungguh luar biasa.

Dengan teman seperjuangan, Kiai Mahfudz menganggapnya seperti saudara sendiri. Selalu memperhatikan keadaan dan kondisinya. Seperti perhatiannya kepada Kiai Masduki. Hanya dua minggu tidak ketemu, Kiai Masfudz pasti datang ke rumahnya, menanyakan kabar.

Pernah ia diundang khataman Al Qur’an di daerah Brangkal Mojokerto. Dari Perak sampai Brangkal Mojokerto [perjalanan bis sekitar 1 jam setengah] Kiai Mahfudz bersama Kiai Masduki [Perak] naik sepeda. Beliau bersama Kiai Masduki juga pernah diundang ke daerah Doko [Ploso ke utara] dengan naik sepeda dan ketika menghafalkan tanpa pengeras suara.

Beberapa Keistimewaan
Sudah sangat lazim di kalangan nadliyin melakukan ziarah pada Walisongo, tetapi Kiai Mahfudz memiliki tradisi lain, ia lebih suka ziarah wali urip [yang masih hidup] bukan ke pada wali yang sudah wafat. Pada tahun 1988, bersama para Kiai, termasuk Kiai Masduki, Kiai Mahfudz ziarah ke 9 wali yang masih hidup. Wali-wali tersebut menurutnya adalah; Kiai Mufid [Jogjakarta], Kiai Arwani [Kudus], Kiai Hasan Mangli [Magelang], Kiai Khobir [Tulung Agung], Gus Hussein [Mojokerto], Kiai Zubair [Magelang], dan lainnya. Yang terakhir [Kiai Jubair] adalah santri Kiai Mahfudz.

Ketika ditanyakan kenapa Kiai ziarah kepadanya, Beliau menjawab “Dulu santri saya, tapi sekarang alimnya –kepintarannya- melebihiku”. Sebuah ungkapan kerendahan hati dan kejujuran seorang ulama yang tidak memandang status guru-murid. Ketika ziarah ke wali hidup inilah, banyak pelajaran berharga yang didapatkan Kiai Mahfudz dan rombongan. Misalnya, ketika ziarah Kiai Arwani, beliau berpesan “Kiai sak iki kudu iso ngramut santrine, ora santri seng ngramut gurune, nek ora ngono, ora angsal barakah” [Kiai sekarang harus bisa merawat santrinya, bukan santri yang meraat gurunya seperti dulu, kalau kiai tidak seperti itu, maka muridnya tidak mendapatkan barakah].

Pada tahun 1973 bersama Kiai Shalih, Kiai Shohih, Gus Dullah [adik Kiai Mahfudz], Kiai Ridlwan, dan Kiai Masduki, Kiai Mahfudz pergi khataman Qur’an di daerah Ngoro [dirumahnya Muhammadun]. Setelah selesai tibalah waktu ashar. Kiai Masduki matur “Kiai mboten shalat ashar riyen” [Kiai tidak shalat ashar dulu], Kiai Mahfudz menjawab “Mboten usah, shalat dewean wahe, ngimamai nok ngone dewe-dewe” [ngak usah, shalat sendiri-sendiri, menjadi imam di tempat kita masing-masing]. Setelah itu, mereka pulang naik montor oplet [motor kuno waktu itu]. Sampainya di depan Kiai Adlan Ali Cukir montor opletnya ditabrak prahoto [sebangsa truk] yang membawa batu penuh. Batu dalam truk tadi tumpah ke montor rombongan Kiai Mahfudz.

Dalam keadaan seperti itu, mereka semua panik bukan main, antara hidup dan mati. Kiai Mahfudz ketika situasi genting itu berkata, “Gusti watune ampun dibrekake riyen, tiyang-tiyang jen medal riyen” [batu-batu jangan ditumpahkan dulu, biar orang-orang keluar dulu]. Alhamdulillah mereka bisa keluar dengan selamat. Hebatnya, peserta rombongan lainnya tetap berusaha menyelamatkan berkat [oleh-oleh] sampai kopiahnya tertinggal, sedang Kiai Mahfudz dan Kiai Masduki tidak mengurusi berkat, sehingga kopiah mereka tetap ada.

Pernah pada suatu ketika Kiai Nah saat inilah ketiga tamu itu terlibat terlibat dalam diskusi secara intens dengan KH. Mahfudz. Khususnya pastur dari Belanda yang mahir berbahasa Arab [karena pernah lama tinggal di Mesir]. Banyak persoalan yang mereka kupas. Sampai-sampai salah seorang dari mereka, pastur dari Belanda itu melukiskan dalam buku hariannya sebuah pernyataan menarik “Saya ketemu dengan seorang Kiai yang tinggal di desa, namun pemikirannya lebih progresif dari orang kota, pengalamannya luas, melewati batas-batas etnis dan budaya, jiwa kemanusiaannya sangat tinggi. Inilah salah satu hari terindah dalam hidup saya”.

Dalam salah satu pertemuan beliau berkata “Kita harus memperhatikan pengetahuan umum dan ketrampilan agar anak-anak kita siap pakai nantinya, seperti KH. A. Wahid Hasyim yang mampu menjadi menteri agama”. Beliau mampu membaca tantangan dunia ke depan dan berusaha menyiapkan bekal menghadapinya dengan berbagai lembaga pendidikan yang dirintis. Bahkan pada suatu ketika ia pernah berkata sama putranya Gus Iim, “Im bikin lagu untuk dakwah yang menarik, seperti lagu anak-anak untuk mengenal Tuhan, alam dan sebagainyal”. Artinya walaupun beliau anti terhadap lagu atau tsamrah sekalipun, namun beliau juga fleksibel selama sesuai dengan aturan agama.

Walaupun ia seorang agamawan yang alim tetapi bukan formalis terbukti tidak mau memakai tasbih, sorban, dan menggelengkan kepala saat dzikir atau wiridan. Bahkan ketika mendapat hadiah tasbih dari seseorang, pasti diterimanya [sebagai penghormatan], namun setelah itu dibakar atau dipendam. Demikian juga ia tidak mau dikultuskan bahkan tidak mau ditulis biografinya, bahkan ketika bersalaman, tidak mau dicium tangan. Ia tidak mau merasa bersih, menjadi cermin orang lain, ia merasa sebagai manusia Demikian halnya penjagaan terhadap kelestarian alam juga sangat diperhatikan, hal itu dibuktikan tatkala mandi tidak pernah berlebih-lebihan, pasti dengan ukuran air yang pas. Beliau sangat hati-hati. Bagi beliau, air sangat berharga karena sumber kehidupan. Kata beliau “Air itu diturunkan satu-satu oleh malaikat, maka jangan sia-siakan air”.

Beberapa Karya Tulisnya
Walaupun sehari-hari disibukkan dengan berbagai kegiatan mengajar dan mengurus birokrasi di kantor hakim agama dan juga di pengurusan NU baik di cabang maupun pusat, namun tidak menghalangi kiai kreatif itu untuk berkarya secara kualitatif. Di antara karya tulisnya yang bisa diidentifikasi adalah:

Fadlail al-Syuhur, sebaah kitab yang tidak ada namanya, namun berisi keutamaan semua bulan, mulai Syawal sampai Ramadlan, tidak ada yang tersisa. Menurut Kiai Masduki, murid dan sekaligus patner perjuangan yang diberi kitab Kiai Mahfudz, kitab itu berisi tentang seluruh keutamaan dan kelebihan setiap bulan, agar supaya tidak lupa melakukan kekhususannya setiap bulan. Sayangnya, menurut Kiai Masduki [Perak], ketika Kiai Mahfudz memberikan kitabnya itu, beliau berpesan agar jangan memberikan kepada orang lain baik dalam bentuk memfoto copy atau lainnya.

Risalah Asyura min Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, menerangkan tentang keistimewaan bulan Asyura, Muharram. Kandungan buku ini beliau sebar ke masyarakat sekitar dan mengajak mereka bersama-sama mengamalkannya.

Beliau adalah penulis pertama Nadhoman Tahsrif Lughowiyah dan Ishtilahiyah dalam kitab Amtsilah Al-Tashrifiyah. Beliau langsung didekte Kiai Ma’shum Ali. Kitab itu kemudian di serahkan di Timur Tengah untuk dicetak. Luar biasa sambutan Ulama Timur Tengah ketika itu. Mereka kagum terhadap kecerdasan dan kreatifitas ulama Jawa, sehingga kitab ini menjadi kurikulum wajib di sekolah-sekolah Timur Tengah.

Tathbiq [jadwal lengkap] dalam kitab Fathur Rauf Al-Mannan karya Kiai Jalil Kudus
Hasil garapan falak [kalender] sampai tahun 2003
Masih ada karya-karya beliau yang belum terlacak, baik berupa ringkasan kitab, catatan kaki, atau lainnya.

Amal di Akhir Hayatnya
Ketika usinya semakin senja Kiai itu sangat prihatin, sebab semakin sedikitnya santri yang berminat dalam bidang falak, di pesantren sendiri ilmu itu hanya diajarkan sambil lalu, sebagai pengenalan, tidak dikaji secara mendalam, sehingga bisa dipraktikkan. Langkah yang diambil kiai adalah membuka pengajian khusus ilmu falak di rumahnya. Pengajian khusus itu banyak diminati masyarakat, tidak hanya santri, tetapi banyak warga NU yang sudah senior mengikuti pengajian ini. Forum pengajian selalu ramai karena dihadiri oleh para ulama dari kabupaten Jombang, Kediri dan sekitarnya. Upaya itu tidak sia-sia, maka dalam waktu yang singkat banyak warga NU di berbagai daerah yang bias membuat kalender sendiri, untuk keperluan sendiri. Keberhasilan mewariskan ilmunya pada masyarakat itu membuat Sang Kiai merasa lega.

Di tengah kelegaan itu Kiai Mahfudz wafat pada malam jum’at legi, 21 Shafar 1420, atau 20 Mei 1999 pada pukul sekitar Maghrib. Banyak orang yang melayat, diantaranya KH. Abdurrahman Wahid, KH. A. Sahal Mahfudz, KH. A. Aziz Masyhuri, KH. Imron Hamzah, dan masih banyak kiai besar lainnya. Termasuk juga Ibu Mufida Munir [istri Rozy Munir M.Sc, putranya KH. Munasir Ali Mojokerto]. Dengan meninggalnya Kiai ini bangsa Indonesia dan warga NU khususnya sangat kehilangan seorang astronom terkemuka, yang temuan-temuan dan keputusannya sangat valid sehingga dihormati semua orang.

PENULIS DAN PENGGALI DATA :
Jamal Ma’mur Asmani
Santri PP Mahasiswa Al-Aqobah Kwaron Diwek Jombang Telp. [0321] 864578
HP. 08155256279, e-mail : jombang_jamal@yahoo.com,
alumnus Perguruan Islam Mathali’ul Falah dan PP Raudlatul ‘Ulum Kajen Pati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar